Sabtu, 21 Mei 2016
Sehidup Seperjuangan, Sehidup Sepenanggungan.
Jumat, 20 Mei 2016
Menyemai Rindu
Tetes
embun masih setia melekat di ujung dedaunan, mentari baru terbangun dari tidur
lelapnya semalam. Pagi ini, aku dan guruku hendak melakukan perjalanan panjang.
Kami hendak pergi kemana? Entahlah, aku pun tak tahu kami hendak kemana. Aku hanya
duduk tertegun di kursi mobil, memandangi jalan yang asing, tak pernah kutemui
sebelumnya. “Kita hendak kemana ustadz?” tanyaku padanya. “duduk saja dan
nikmati perjalanan, nanti juga kau mengerti” jawabnya. Aku hanya diam, tak
kembali bertanya, karena aku tahu bahwa guruku tak akan membawaku ke tempat
yang salah, kelak kemudian aku dapat memetik hikmah dari perjalanan ini.
Tentang Hujan
Matahari
terik menyengat, menemani pembelajar yang tak bosan belajar meski tak kunjung
pandai. Hari ini, pembelajar itu belajar pemikiran islam di kampus Padjajaran,
memaknai sains dari sudut pandang Islam. Pembelajar itu datang terlambat,
karena sebelumnya ia perlu melahap soal demi soal tentang ekologi tanaman. Akhirnya,
ia hanya mendengar sebuah jawaban tentang sains dan islam, tanpa mendengarkan
materi secara utuh terlebih dahulu.Memaknai Kebangkitan
Kamis, 19 Mei 2016
Islamic worldview
KONSEP ILMU[1]
Catatan kecil untuk para pemuda.
Menikahlah, jika tak mampu shaumlah!
Bagi seorang insan yang telah
mampu secara fisik, ruhani, maupun Ilmu untuk menikah, maka menikahlah.
Menikah menjadi solusi pertama bagi seorang insan yang mencintai, dan
telah mampu untuk menikah. Maka cintanya pada seorang insan akan dibalut
dalam bingkai yang halal, menjalaninya menjadi ibadah dan amal shalih.
Namun, jika kemudian kita belum mampu untuk menikah, maka shaumlah.
Shaum menjadi solusi kedua, bagi para pemuda yang belum mampu untuk
menikah. Hakikat shaum bukan hanya menahan diri dari lapar dan dahaga,
tapi ia lebih baik untuk menundukan nafsu dan pandangan. Maka bagi yang
belum mampu untuk menikah, perbanyaklah shaum, agar shaum itu menjagamu
dari nafsu syaithan.
Pendidikan Adab; Solusi dekadensi moral.
Pendidikan pada
hakikatnya bukan sekedar proses transfer ataupun sharing ilmu, tetapi
pendidikan adalah proses mendidik dan menanamkan nilai-nilai etika dalam
kehidupan. Jika melihat 'ulama-'ulama salaf, mereka terlebih dahulu
mempelajari adab, baru kemudian berproses mencari Ilmu. Hal ini
menandakan pentingnya adab atau akhlaq dalam kehidupan, bukan hanya
sekedar berilmu. Maka pendidikan sejatinya bukan hanya mencetak generasi
yang cerdas secara kognitif, tetapi juga harus mampu mencetak generasi
yang cerdas secara emosional dan spiritual. Al-'adab qoblal 'ilm.
Manusia pintar tanpa akhlaq yang baik hanya akan membuahkan sikap
sombong dan angkuh, tak jarang ilmunya malah semakin menjauhkannya dari
Rabb semesta Alam.
















